Showing posts with label Kisah Sejarah Bali. Show all posts
Showing posts with label Kisah Sejarah Bali. Show all posts

Saturday, June 24, 2017

Sejarah Pantai Sanur

            Hai, apa kabar? semoga sehat selalu. Kalian pernah melali ke Bali tidakk? pasti sudah tau kan tentang Pantai Sanur ? nah, kali ini saya akan sedikit memperjelas tentang Pantai Sanur, simak dengan baik ya di bawah ini.

            Pantai Sanur adalah sebuah tempat pariwisata yang sudah sangat terkenal di Pulau Bali dari jaman dahulu. Pada sebuah Prasasti yaitu Prasasti Raja Kasari Warmadewa, menyatakan keindahan Pantai Sanur. Sekarang, Prasasti ini terdapat di daerah Blanjong, atau tepatnya di bagian selatan Pantai Sanur. Pada Masa Kolonial Belanda, Pantai Sanur dijadikan sebagai lokasi pendaratan untuk para tentara Belanda ketika menyerang Kerajaan Badung.


            Pada pertama kalinya, Pantai Sanur dikenal pada dunia Internasional yaitu oleh seorang pelukis yangbernama A. J. Le Mayeur yang berasal dari Belgia, Ia datang ke bali pada tahun 1932, lalu melihat keindahan Pantai Sanur. Setelah melihat keindahan Pantai Sanur, Beliau memutuskan untuk tinggal dan menetap di pantai ini lalu mendirikan sebuah sanggar lukis. Kemudian, Beliau menikah dengan salah satu gadis Bali yang merupakan seorang Penari Legong sekaligus salah satu model lukisannya yang bernama Ni Nyoman Pollok. Melalui lukisan Le Mayeur, Pantai Sanur akhirnya mulai dikenal di dunia. Dan sanggar lukis yang sebelumnya dibangun oleh A. J. Le Mayeur ini kini dijadikan Museum Le Mayeur yang masih berlokasi pada area wisata Pantai Sanur yang dapat dikunjungi oleh siapapun.

                                     

            Pantai Sanur memiliki pemandangan matahari terbit atau biasa disebut sunrise yang sangat indah. Dengan bentuknya yang melengkung, Pantai Sanur memiliki hamparan pasir putih yang membentang membuat mata meleleh dengan melihat keindahannya. Apalagi sambil menikmati detik-detik terbitnya matahari serta pemandangan pulau nusa penida yang letaknya tepat disebelah tenggara Pulau Bali dan ditemani oleh secangkir minuman hangat yang membuat hati dan pikiran lebih tenang dan damai.

            Pantai Sanur terletak di Desa Sanur, Denpasar. Jarak Pantai ini kurang lebih sekitar 6 kilometer dari Pusat Kota Denpasar, dan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum. Disekitaran Pantai Sanur, terdapat beberapa hotel berbintang dan berbagai macam restoran, maka dari itu jika anda ingin berkunjung, anda tidak perlu khawatir karena di Kawasan Pantai Sanur terdapat banyak tempat beristirahat seperti hotel yang disebutkan tadi dan penginapan. Selain itu, disana juga terdapat warung makan dan banyak pula kios-kios yang menjual barang-barang unik yang dibuat oleh penduduk Bali berupa kesenian dari wilayah Bali. Tak lupa juga, disana terdapat pula toko oleh-oleh khas Pantai Sanur. Sekian informasi tentang Pantai Sanur, semoga berguna dan dapat menambah wawasan anda. Dan tak lupa saya meminta maaf bila ada kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja.

Wednesday, April 12, 2017

Misteri Barong dan Rangda Bali


Hai, apa kabar? semoga selalu dalam keadaan baik. Kalian sudah tau belum Misteri Barong dan Rangda yang ada di Bali? ini nih ceritanya, simak dengan baik yaa.

Penduduk wilayah Bali memiliki rasa percaya bahwa alam ghaib yang ada di dunia dikuasai oleh RATU GEDE MECALING, yang merupakan Penguasa Laut Selatan Bali. Semua makhluk ghaib yang terdapat adalah bawahan dari RATU GEDE MECALING ini. Pada suatu hari, saat pendeta menyarankan masyarakat setempat untuk membuat patung berwujudkan Ratu yang melinggih di Istana Pura Dalem Ped, yang berada di Nusa Penida. Patung ini dibuat untuk makhluk ghaib yang diceritakan sering mengganggu manusia.

Para makhluk ghaib yang sering mengganggu warga setempat mengira, bahwa patung yang dibuat tersebut adalah pemimpin mereka, sehingga mereka pun pergi dan ketakutan. Patung tersebut memiliki badan yang tinggi, hitam, dan besar, dan disertai pula dengan taring yang tajam, Sosok ini dikenal oleh warga dan sering disebut BARONG. Sejak saat itu, warga setempat membuat ritual, yaitu dengan mengelilingi kampung bersama dengan Barong sebagai simbol pencegahan mara bahaya. Barong adalah jelmaan dari makhluk ghaib yang berkuasa di Pulau Bali. Bagi warga Bali, pada setiap hutan dan tanah memiliki penguasa lalu diwujudkan kedalam aneka barong berbentuk hewan seperti singa, babi hutan, harimau, macan, naga, atau hewan lainnya. Di Bali, terdapat banyak Barong yang dipercayai oleh masyarakat, Seperti Barong Ket atau Barong Keket yang merupakan salah satu Barong yang sangat sering dipentaskan oleh masyarakat Bali, terutama warga yang beragama Hindu. Barong Ket atau Keket ini sama halnya seperti manusia, karena Barong ini juga memiliki sosok yaitu pria dan wanita.

Tari Barong menggambarkan pertarungan dari kebaikan (dharma) dengan keburukan (adharma). Kebaikan diwujudkan dengan karakter yang dilakoni oleh Barong, yaitu berupa penari dengan kostum binatang berkaki empat, sedangkan wujud keburukan diwujudkan sebagai sosok yang menyeramkan dan dilengkapi oleh dua taringnya yang tajam, biasanya disebut dengan Rangda.

Terdapat beberapa jenis Tari Barong yang biasanya sering ditampilkan di Bali, diantaranya yaitu; Barong Ket (Keket), Barong Bangkal (Babi), Barong Macan, Barong Landung. Tetapi, diantaranya, jenis-jenis Barong tersebut, Barong Ket (Keket) lah yang paling sering disuguhkan kepada para wisatawan, karena barong tersebut memiliki kostum dan tarian yang cukup lengkap.

Barong biasanya dipentaskan oleh dua penari, seorang penari mengambil posisi di depan dengan memainkan dan menggerakkan kepala serta kaki depan, sementara penari lainnya berada di belakang dengan memainkan kaki belakang dan ekor Barong. Barong Ket tidaklah jauh berbeda dengan Barong sai yang biasanya digunakan sebagai pertunjukan oleh masyarakat Cina. Tetapi, Barong ini berbeda yaitu pada cerita yang dijalankan, yaitu cerita pertarungan diantara Barong dan Rangda dengan dilengkapi dengan tokoh lainnya, seperti Kera, Dewi kunti, Sadewa, serta para pengikut Rangda yang lainnya.

Barong Ket

Sering juga disebut sebagai Barong Keket, Barong ini merupakan Jenis Barong yang paling banyak terdapat di Bali, dan paling sering pula dipentaskan karaena memiliki gerak tari yang lengkap. Pada umumnya, Kostum Barong Keket menggambarkan perpaduan dari harimau, singa, dan lembu. Pada badan Barong Keket dihiasi dengan ornamen ukir-ukiran yang berasal dari kulit, potong-potongan kaca cermin, dan dilengkapi juga dengan bulu-bulu dari serat daun pandan.

Barong Bangkal

Bangkal adalah seekor Babi besar yang umurnya sudah tua, oleh karena itu, Barong yang satu ini menyerupai seekor babi, Barong ini biasa pula disebut dengan Barong Bangkung. Pada umumnya, Barong ini dipentaskan dengan berkeliling di desa atau biasa disebut "Ngelawang" pada hari-hari tertentu, yaitu pada hari yang dianggap keramat dan jika ada wabah penyakit yang menyerang desa.

Barong Landung

Barong Landung merupakan suatu wujud sesuunan yang berwujudkan manusia dengan badan tinggi yang mencapai sekitar 3 meter. Barong Landung tidak sama dengan Barong Ket, karena Barong Landung lebih sakral dan diyakini kekuatannya sebagai pelindung dan juga pemberi kesejahteraan umat. Barong Landung dapat dijumpai disekitar Bali Selatan.

Barong Macan

Barong Macan memiliki bentuk yang dengan seekor macan pada umumnya, dan termasuk kedalam jenis barong yang terkenal dikalangan masyarakat Bali. Barong ini biasanya dipentaskan dengan berkeliling desa dan adakalanya dilengkapi dengan suatu pentasan drama tari semacam Arja serta dilengkapi juga dengan gamelan.

Rangda

Rangda merupakan Ratu dari para Leak yang ada dalam mitologi Bali. Makhluk ini berwajah menyeramkan dengan disertai dengan dua calingnya yang tajam. Biasanya, karakter ini sering menculik serta memakan anak kecil. Rangda merupakan pemimpin pasukan nenek sihir yang jahat untuk memerangi Barong (simbol kekuatan baik).

Maka dari itu, kita tidak boleh meremehkan budaya-budaya yang telah diwariskan, dan jangan pula berbuat jahat kepada siapapun agar tidak selalu dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Esa. Sekian artikel mengenai Misteri Barong Bali. Jangan lupa berkomentar ya dibawah ini mengenai topik yang satu ini. Jangan lupa share jugaa yaa. Terimakasih telah berkunjung, dan mohon maaf bila ada kesalahan baik yang disengaja maupun tidak disengaja.

Thursday, March 30, 2017

Asal Muasal Nama Pulau "BALI"

Om Swastyastu, apa kabar semeton Bali sekalian? semoga sehat selalu. Pernahkah kalian berpikiran dari manakah asal nama BALI itu digunakan? nah, jika kalian ingin tahu asal usulnya simak nih selengkapnya dibawah ini.

Tahukah kalian nama tokoh terkenal yang merupakan pertapa sakti di Gunung Raung? Semenjak kedatangannya ke Bali yaitu pada abad ke- 7, yaitu Rsi Markandeya. Beliau datang ke Bali pada abad ke- 7 untuk menyebarkan Agama Hindu ke seluruh Dunia. Pada mulanya, Rsi Markandeya bertapa di sebuah gunung yang bernama Gunung Demulung, dan berpindah ke Gunung Hyang. Seletah beberapa lama beliau melakukan pertapaan di Gunung tersebut, lalu Beliau mendapat titah dari Sang Hyang Widhi Wasa agar datang dan membersihkan hutan di Pulau Dawa (Panjang), disebut Pulau Dawa karena memang dulunya pulau tersebut panjang dan lebar sebelum pisahnya Pulau Jawa dan Bali.

Setelah menentukan hari baik, Beliau pun pergi ke hutan belantara tersebut lengkap dengan 800 pengikutnya yang membawa alat-alat yang lengkap. karena banyak pengikutnya yang tewas akibat sakit, dimakan binatang buas, dan lainnya, Beliau pun akhirnya kembali ke pertapaannya dan mencari jalan keluar.

Setelah melakukan semedi dan menentukan hari baik, beliau pun kembali ke hutan tersebut. Sesampainya ditempat itu, beliau lantas melakukan yadnya dengan mempersembahkan sesajen, dan dengan semangat dan tekad yang kuat beliau pun akhirnya berhasil merambas seluruh hutan tersebut. Lalu, hutan yang telah dirambas itupun dibagi kepada pengikutnya untuk dijadikan lahan pertanian, perkebunan, dan rumah. Dan ditempat pertama beliau melakukan perambasan itu melakukan ritual dengan menanam Kendi yang berisi air dan 5 jenis logam (Panca Datu), ditempat ini pula dibangun pelinggih, seiring berjalannya waktu, pelinggih tersebut pun ditambah jumlahnya dan dibangun menjadi Pura yang disebut dengan PURA BASUKIAN. Pura Basukian lalu berubah Nama menjadi Pura Besakih, yaitu merupakan Pura terbesar di Bali yang berlokasi tepat di kaki Gunung Agung.

Dari sanalah Rsi Markandeya mengajarkan Agama kepada pengikutnya lalu menyebut Tuhan dengan Nama Sang Hyang Widhi melalui penyembahan yang dilakukan tiga hari dalam sekali, dengan menggunakan alat perlengkapan berupa bebali yaitu sesajen yang terdiri dari tiga unsur, diantaranya; air, api, dan bunga harum.
Ajaran agama ini disebut dengan Agama Bali, lalu lambat laun perkembangan pengikutnya pun mulai terlihat, dengan bertambahnya penduduk & pengikut, melalui peenyebaran ke daerah sekitar, sehingga daerah tersebut disebut dengan daerah Bali, yaitu daerah yang segala sesuatunya menggunakan bebali atau sering disebut dengan sesajen.

Dapat disimpulkan bahwa nama "BALI" berasal dari kata "BEBALI" yang berarti "SESAJEN". Dipergunakannya nama BALI ini juga ditegaskan kembali dalam kitab RAMAYANA yang disusun pada tahun 1200 SM, yang berbunyi "Ada sebuah tempat di timur Pulau Dawa Dwipa yang bernama Vali Dwipa, disana, Tuhan diberikan kesenangan oleh penduduknya dengan mempersembahkan bebali atau sesajen. Vali Dwipa adalah sebutan untuk Pulau Vali, lalu kemudian berubah menjadi Pulau Bali atau Pulau Sesajen. Mungkin karena nama itulah yang menjadikan Pulau Bali tidak lepas dari yang namanya SESAJEN. Sekian artikel mengenai ASAL USUL NAMA BALI, semoga dapat menambah wawasan anda, dan mohon maaf bila ada kesalahan. Jika ada sesuatu yang ingin ditanyakan atau ditambahkan silahkan tuliskan di komentar atau menghubungi akun sosial media saya. Terimakasih atas kunjungan anda.

Sunday, March 26, 2017

PERANG PUPUTAN BADUNG

Hei, apa kabar? semoga sehat selalu. Pernahkah anda mendengar atau mengunjungi PUPUTAN BADUNG? nah, tempat itu merupakan tempat berjuangnya rakyat BALI sampai titik darah penghabisan.

Pada tanggal 27 Mei tahun 190, sebuah perahu dagang terdampar di pantai timur Kerajaan Badung. Perahu tersebut bernama "Sri Komala", didapati, perahu tersebut berbendera Belanda yang berlayar dari Banjarmasih dengan muatan barang dagang milik pedagang Cina yang bernama "Kwee Tek Tjiang". Karena kandas dan perahu pecah, barang yang terdapat di dalam perahu tersebut pun diturunkan oleh para penumpang Sri Komala. Barang yang terdapat didalamnya antara lain peti seng, peti kayu, dan koper kulit, setelah diturunkannya muatan yang dibawa, lalu nahkoda meminta bantuan kepada syahbandar di Sanur untuk menjaga barang-barang yang telah diturunkan tersebut. Seorang warga Cina di Sanur yang bernama "Sik Bo" memberi saran untuk melaporkan peristiwa kandasnya perahu Belanda kepada "Ida Bagus Ngurah" yang merupakan penguasa daerah Sanur dengan tujuan untuk ikut mengamankan barang-barang yang diturunkan tersebut.
Untuk memeriksa kebenaran laporan itu, Ida Bagus Ngurah yang selaku penguasa Sanur berangkat ke tepo pantai untuk memeriksa. Ternyata, sesuai dengan laporan yang ada, serta tambahan barang berupa roti kering dan beberapa uang kepeng.

Dua hari setelah perahu itu terdampar, tepatnya pada tanggal 29 Mei 1904, Raja Badung mengutus beberapa pasukan untuk mengadakan pemeriksaan ke pantai. Setelah itulah Kwee Tek Tjiang membuat laporan palsu kepada utusan raja, dengan menyatakan bahwa rakyat telah mencuri uang perak sebesar 3700 ringgit, dan 2300 uang kepeng. Karena tidak disertai bukti nyata yang menjelaskan kebenaran dari tuduhan tersebut, utusan raja pun tidak dapat menerima pernyataan tersebut.

Kwee Tek Tjiang datang lalu menghadap langsung dengan Raja Badung yang menolak pengaduan itu. salian dipandang tidak sesuai, Kwee Tek Tjiang juga menuduh rakyat Badung juga merampas perahu itu. Dengan keyakinan yang sangat kuat dari Raja dan Rakyat Badung,  sehingga dipandang membahayakan kedudukan Pemerintah Kolonial di Bali.

Penolakan yang tegas dari Raja Badung mengakibatkan pemerintah kolonial mengirim angkatan laut untuk memblokade ekonomi perairan laut Badung. Seiring berjalannya waktu, blokade itu terus dilakukan dan mengakibatkan Kerajaan Badung mengalami kerugian setiap hari sebesar 1500 ringgit. Selain blokade ekonomi di laut, blokade ekonomi di darat pun juga dilakukan dengan cara yaitu bekerja sama dengan beberapa raja-raja tetangga seperti; Tabanan, Bangli, Gianyar, dan Karangasem. Tetapi, hal tersebut sulit dilakukan karena hubungan yang sudah erat dengan Kerajaan Badung. Blokade yang dilakukan di darat maupun di laut ternyata tidak mempan karena Raja Badung tidak menyerah.

Karena keputusan dari Raja Badung yang tetap, lalu Gubernur Jenderal Van Hentzs mengirim surat kepada Raja Badung pada 17 Juli 1906. Surat tidak hanya dikirim kepada I Gusti Ngurah Pemecutan dan I Gusti Ngurah Made Agung, Jenderal Van Hentzs juga mengirim kepada I Gusti Ngurah Agung yang selaku Raja di Tabanan, beliau tegas memihak kepada Raja Badung.

Utusan Ekspedisi militer V sampai di Selat Badung pada tanggal 12 September 1906. Dengan kekuatan armada berjumlah 16 buah kapal, diantaranya; 7 buah kapal pengangkut dan 9 buah kapal perang, yang dilengkapi dengan meriam berbagai kaliber, serta Personil yang diikutsertakan dalam ekspedisi itu berjumlah 3053 orang, terdiri dari 2312 personil militer serta 741 orang sipil termasuk wartawan itu pun akhirnya di kirim pada sore hari untuk menyampaikan ultimatum kepada Raja Tabanan dan Raja Badung agar menyerah dalam waktu dua hari kedepan. Ultimatum tersebut ditolak dengan tegas, sehingga pasukan yang di bawa oleh Belanda mendarat di Pantai Sanur pada tanggal 14 September 1906. Pabean Sanur ditempati oleh pasukan Belanda untuk dijadikan sebagai benteng pertahanan mereka untuk menyerang ke Kesiman, Laskar Badung pun sudah siap perang degan memperkuat benteng pertahanannya di depan Puri Kesiman, Denpasar, dan Pemecutan.

Keesokan harinya Laskar Badung kembali menduduki beberapa Desa, diantaranya; Taman Intaran, Sindu, dan Buruan. Sempat terjadi kontak senjata antara Laskar Badung dan Batalyon 11 Pasukan Belanda di Sindu. Namun Laskar Badung yang datang dari Bengkel dan Kelandis bergerak menuju Kepisah dan sampai di Tanjung Bungkak, lalu disusul 500 Laskar dari Kesiman yang dipimpin oleh I Gusti Gede Ngurah Kesiman yang bergerak ke selatan. Berbagai macam senjata digunakan oleh pasukan tersebut, diantaranya; Tombak, Keris, Senapan, dan juga Pedang. Kehadiran Laskar Badung mengakibatkan pasukan Belanda menembakkan salvo dari benteng pertahanan Belanda yang berjarak 100 meter, lalu terjadilah pertempuran yang hebat satu melawan satu yang memenuhi seluruh Desa Sanur. Banyak korban yang berjatuhan, mulai dari pasukan Belanda yang mengalami luka-luka, dan pasukan Laskar Badung yang tercatat 33 korban tewas dan 12 orang luka-luka akibat tembakan meriam dari pasukan Belanda.

Lalu berpindah ke Renon, Laskar Badung memasang ranjau dari bambu guna untuk menghambat serangan dari Pasukan Kavaleri Belanda yang menunggangi kuda. Pertahanan juga dilakukan di desa-desa dengan mengelilingi 3 Puri, yaitu; Puri Kesiman, Puri Agung Denpasar, serta Puri Agung Pemecutan, beberapa daerah juga diperkuat, mulai dari Renon, Panjer, Sesetan, Kelandis, dan Tanjung Bungkak.

Pasukan Belanda yang dipimpin oleh Rost Van Toningen meninggalkan benteng di Pabean Sanur, lalu bergerak mengikuti jalan besar ke sebelah barat menuju ke Tanjung Bungkak, dan bergerak sebelah kiri, kedatangan pasukan Belanda di Panjer langsung disambut dengan serangan yang gencar dari sekitar 2000 pasukan Laskar Badung. Karena waktu sudah hampir gelap, Belanda pun akhirnya mundur dan kembali ke bentengnya di Sanur. Pada saat mereka tiba di Pabean Sanur, pasukan Laskar Badung yang berjumlah sekitar 30 orang dari Kesiman datang untuk menyerang, tetapi, tembakan yang dilepaskan oleh angkatan laut Belanda berhasil memukul mundur Laskar Badung.

Pada tanggal 18 Septembar 1906, meriam penembak yang terletak di sebelah kanan benteng ditembak kearah Kota. Tembakan tersebut menuju ke arah Puri Kesiman, dan beberapa tembakan tersebut berhasil mengenai Puri dan sisanya mendarat di luarnya. Sebanyak 1500 pasukan Laskar ikut memperkuat benteng pertahanan di tepi timur Kesiman yang dekar dengan kebun kelapa.

Pasukan Belanda lalu bergerak menuju arah utara, sementara itu pasukan Laskar Kerajaan Badung yang mempertahankan Desa Tangtu lalu menyerang Rost Van Toningen, sehingga seorang prajurit Belanda luka berat. Serangan Laskar Badung lalu dapat dihentikan oleh 2 peleton yang mengejar. Mereka melanjutkan serangannya untuk menduduki Puri Kesiman. Lalu, kedudukan Laskar Kerajaan Badung sudah mendekati jaeak 350 meter dari pasukan Belanda. Lalu pasukan Belanda menembak, dan pasukan Laskar Badung maju dengan tujuan untuk melawan, teptapi tembakan dari Belanda mengenai mereka dan akhirnya roboh begitu saja. Laskar Kerajaan Badung memiliki kekurangan, yaitu pada kelengkapan persenjataan. Tetapi, meskipun hanya menggunakan meriam kecil dengan tembakannya yang lambat, namun ternyata senjata ini menjadi pembangkit semangat untuk berperang dan rela berkorban sampai titik darah penghabisan.

Puri Kesiman lalu dapat diduduki oleh pasukan Belanda. Karena jatuhnya pertahanan di Puri Kesiman, pasukan Belanda akhirnya berpindah meninggalkan Puri Kesiman, lalu menuju Desa Sumerta pada tanggal 20 September 1906 yang bersamaan dengan gerakan pasukan, dan tembakan meriam dari benteng Belanda di Sanur yang diarahkan menuju Puri Agung Denpasar dan Puri Pemecutan. Peluru yang ditembakkan berhasil mengenai Puri dan mengakibatkan kerusakan. Laskar Badung dari tepi barat Desa Sumerta melakukan perlawanan untuk mempertahankan tepi timur Denpasar.

Lalu, Pasukan Belanda dibagi, beberapa berbaris ke sebelah kiri menuju ke Desa Kayumas, sementara yang lainnya menuju ke batas timur Denpasar. Di Puri Denpasar telah berkumpul rombongan keluarga dan pengikut setia Raja, yang berjumlah sekitar 250 orang, lalu Raja memerintahkan pasukan untuk membakar Puri Agung Denpasar.

Pasukan Belanda lainnya telah menduduki perempatan dalan Denpasar menuju Tangguntiti. Lalu, Raja dan pengikutnya keluar dari Puri dan semua membawa senjata baik laki-laki maupun perempuan mulai dari keris, atau pun tombak. Rombongan ini bergerak ke utara melalui pintu gerbang Puri dan keluar ke jalan besar, hingga tiba di persimpangan jalan Jero Belaluan.

Beberapa kali rombongan itu diperintahkan untuk berhenti, tetapi rombongan tersebut tetap bergerak sehingga semakin dekat dengan Pasukan Belanda. Lalu Raja dan Rakyat Badung berlari kencang dengan tombak dan keris terhunus menerjang musuh, dan saat itu pula tembakan salvo mulai dilepaskan sehingga mengakibatkan Rakyat Badung tersungkur termasuk Raja I Gusti Ngurah Made Agung. Setelah Raja Denpasar Gugur, Rakyat yang bersama dengan rombongan Raja tersebut pun melanjutkan penyerbuannya dan tak kalah pula pasukan Belanda yang terus menyerang. Dengan cara melawan pantang menyerah, dan berperang sampai titik darah penghabisan, Raja dan Rakyat Badung rela dan ikhlas mengorbankan dirinya demi membela keberanan yang luhur. Tewas berjuang dan membela kebenaran adalah sorga bagi pasukan, yang sesuai dengan ajaran Agama Hindu.

Rombongan lainnya kemudian muncul di jalan besar yang dipimpin oleh saudara tiri Raja yang masih berumur 12 tahun dengan tombak yang sangat panjang ditangannya, pasukan Belanda pun dikepung. Pada saat itu, komandan  pasukan pun memperingati untuk mundur, tetapi rombongan tersebut tidak menghiraukan dan langsung menyerang dengan buasnya. Satu persatu dari mereka pun akhirnya gugur, dan tumpukan mayat semakin bertambah.

Dengan itu, didekat perempatan jalan dari Denpasar menuju ke Tangguntiti dan Kesiman masih terjadi serangan Kerajaan Badung. Laskar Badung yang masih menduduki Jero di Tainsiat melakukan serangan terhadap pasukan Belanda. Karena peperangan yang tidak seimbangnya alat persenjataan yang digunakan, karena Belanda menggunakan persenjataan modern dan lengkap dengan pasukan militer yang profesional, sedangkan Laskar Badung hanya menggunakan jiwa dan semangat pantang menyerahnya pun dapat dijinakkan.

Lalu, Pasukan Belanda bergerak ke selatan menuju ke arah Puri Agung Denpasar dan kembali melanjutkan penyerangannya ke Puri Agung Pemecutan. Sementara di Puri Agung Pemecutan I Gusti Gede Ngurah Pemecutan memerintahkan untuk membakar Puri sebelum melakukan perlawanan terhadap Belanda. Belanda lalu meninggalkan halaman Puri Agung Denpasar dan sampai di Perempatan Suci. Tembakan pun dilepaskan oleh Belanda bertujuan agar mendapat jalan didepannya, Laskar Kerajaan Badung yang bertahan diseberang sungai Badung lalu melepaskan tembakan ke arah Pasukan Belanda dengan jarak tembak 700 meter, dan berhasil mengenai sasaran, 2 orang dari pasukan Belanda menjadi korban. Pasukan Belanda lalu membalas tembakan tersebut dengan artileri meriam kaliber 3,7 yang mengakibatkan Pasukan Laskar Kerajaan Badung berguguran. Pasukan Belanda lalu bergerak maju mendekati Puri Agung Pemecutan, dan pada waktu itulah Pasukan Laskar Kerajaan Badung melakukan serangan.

I Gusti Ngurah Pemecutan yang diusung dengan tandu berkumpul dengan para punggawa, istri dan keluarganya di Puri Pemecutan. Pasukan Laskar Kerajaan Badung bermunculan disana-sini dengan menyerang menggunakan tombak dan senapan yang berjarak agak jauh dari Pasukan Belanda. Rombongan Raja bergerak secara perlahan mendekati pasukan Belanda. Setelah posisi mereka sangat dekat dengan Pasukan Belanda, Raja beserta pengikutnya bergerak semakin cepat dan menerjang Pasukan Belanda. Pada Pertarungan yang sengit itulah Raja dan pengikutnya gugur satu demi satu. Akhirnya, pada pukul 18.00, perlawanan dari Laskar Kerajaan Badung di Pemecutan yang merupakan benteng terakhir berhenti, Pasukan Laskar Kerajaan Badung akhirnya menduduki Puri Agung Pemecutan.

Sekianlah cerita singkat dari PERANG PUPUTAN BADUNG, mohon maaf bila ada kesalahan baik yang disengaja maupun tidak. Termikasih telah berkunjung.