Showing posts with label Tradisi Bali. Show all posts
Showing posts with label Tradisi Bali. Show all posts

Tuesday, April 11, 2017

Tradisi Nyakan Diwang? Dari daerah mana sih asalnya?


Tradisi di Bali memanglah sangat banyak, diantaranya pun ada yang ada yang aneh mungkin menurut kalian. Tetapi, diantara keanehan dan keunikan tersebut, hal itu dilakukan karena memang sudah menjadi warisan turun temurun dari nenek moyang dan sudah menjadi tradisi didaerah tersebut. Seperti halnya TRADISI NYAKAN DIWANG, pernahkan anda mendengar kalimat tersebut? Tahukah anda bagaimana prosesi berjalannya acara tersebut? yuk simak selengkapnya dibawah ini.


Buleleng adalah suatu Kabupaten yang sangat luas daerahnya, selain banyaknya wisata alam dan kuliner yang terdapat didalamnya, terdapat pula tradisi yang sangat menarik didalamnya, seperti TRADISI NYAKAN DIWANG. Berasal dari namanya yaitu Nyakan dan Diwang, kata Nyakan jika dalam bahasa Bali berarti memasak, dan Diwang berarti diluar. Jadi, Nyakan Diwang ini dapat diartikan sebagai kegiatan memasak yang dilakukan diluar pekarangan atau diluar rumah. Tradisi ini digelar pada saat Ngembak Geni, atau sehari setelah Hari Nyepi, di beberapa Desa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, salah satunya yaitu Desa Kayuputih.

BACA JUGA : TRADISI PERANG PANDAN DI KARANGASEM

Tradisi yang digelar ini sangatlah berbeda dengan tradisi lainnya yang ada di Bali. Pada saat Nyiperng telah berakhir, pukul 24.00 wita lampu yang menyinari seluruh rumah mulai menyala. Suasana yang sebelumnya gelap gulita dan tenang kini telah berubah menjadi terang benderang. Pada saat inilah warga mulai keluar dari rumah. Mereka sibuk menyiapkan alat masak untuk dibawa keluar rumah dan melakukan kegiatan "Nyakan Diwang". Hal tersebut dilakukan secara serempak oleh seluruh masyarakat. Anak-anak pun tidak ingin melewatkan kegiatan unik yang rutin digelar setiap tahun ini. Pada saat melakukan Tradisi Nyakan Diwang, selain ada yang sibuk menghidupkan api, ada juga yang hanya mengobrol dan bercanda dengan orang tuanya.

Saat keadaan itulah suasana dan rasa kekeluargaan mulai terasa. Antara warga satu dan warga lainnya pun saling mengunjungi, lalu bercanda gurau, dan bertegur sapa sambil menghangatkan diri didekat api yang menyala oleh kayu bakar. Selain itu, pria kalangan dewasa pun memilih untuk berjalan disekitaran desa dengan berjalan kaki. Seorang warga menjelaskan, bahwa  Tradisi Nyakan Diwang ini sudah ada dari dulu dengan turun temurun. Belum diketahui secara pasti kapan tradisi tersebut ini muncul. Meskipun demikian, masyarakat didaerahnya pun tetap rutin menjalankannya setiap tahun. ungkapnya.



Tradisi Nyakan Diwang ini sangat unik dan baik untuk diajalankan, karena selain dapat menikmatinya bersama keluarga, kita juga mendapatkan banyak hal positif bagi masyarakat yang melaksanakannya. Seperti; mendekatkan diri dengan warga lainnya, agar hubungan didalam keluarga lebih erat dan harmonis. Tetapi, karena diiringi dengan perkembangan jaman, beberapa masyarakat hanya memilih untuk menghidupkan api pada tungku yang sudah disiapkan diluar rumah pada saat pengrupukan, sementara kegiatan memasak dilakukan ditempat biasa, yaitu di dapur. Tokoh masyarakat yaitu I Wayang Suteja, mengatakan bahwa kegiatan Nyakan Diwang sudah dilakukan sejak 1950-an, yaitu pada saat dirinya masih menduduki bangku Sekolah Dasar (SD). Orang tuanya mengaku tidak mengetahui asal-muasal kemunculan Tradisi tersebut.

Selain itu, Bendesa Desa Adat Kayuputih yaitu Jero Nyoman Oka mengatakan, "Selain digunakan untuk media silahturahmi, tradisi ini juga dapat dikaitkan dengan penyucian diri. Karena pada jaman dahulu, sejumlah warga ada yang melaksanakan Nyepi di dalam pekarangan, serta ada juga yang melaksanakannya di luar pekarangan. Nah, pada saat warga yang melakukan Penyepian diluar pekarangan ini berkunjung ke warga yang melakukan kunjungan ke warga yang melakukan kegiatan di dalam pekarangan, disambut dengan api terlebih dahulu sebelum masuk kedalam rumah. Hal ini bertujuan untuk penyucian, api itu sekalian digunakan untuk memasak oleh warga. Terangnya.

Selain Tradisi Nyakan Diwang, Tradisi yang ada didaerah kalian pun harus diperhatikan dan dilestarikan agar anak dan cucu kita nanti dapat mengetahuinya. Sekian artikel mengenai TRADISI NYAKAN DIWANG, semoga dapat menambah wawasan anda, dan semoga berguna untuk kedepannya. Terima kasih telah berkunjung, mohon maaf bila ada kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. sekali lagi terima kasih.

Friday, April 7, 2017

Tradisi Perang Apii

Hai, apa kabar? semoga selalu dalam keadaan baik, Kalian sudah tahu bukan, di Bali terdapat banyak aneka ragam tradisinya di wilayah masing-masing. Nah, bagaimana jadinya jika tradisi itu berupa perang? mungkin bakal hancur ya daerah itu, hehe. Enggak sampe hancur kok perang ini cuma sederhana, ingin tau perang apa itu? yuk simak di bawah ini. Mungkin, jika kalian mendengar kata perang pikiran anda langsung tertuju pada jaman dahulu atau sebelum Indonesia merdeka. Nah, bagaimana jika perang itu dilakukan setiap tahunnya? bahkan perang ini merupakan tradisi di daerah Karangasem, yaitu tepatnya di Desa Jasri. Perang apakah itu?


Sering disebut dengan Terteran, Perang ini merupakan perang yang menggunakan api sebagai senjatanya. Wahh, serem juga yah, Perang Api ini digelar setiap dua tahun sekali yaitu pada tahun bilangan genap, hal ini terkait dengan digelarnya upacara desa Aci Muu-Muu yang diselenggarakan setiap Pangerupukan yang jatuh pada Tilem Kesanga, atau sehari sebelum Hari Nyepi. Tradisi ini dilakukan untuk menetralisir roh jahat yang mengganggu kehidupan manusia.

BACA JUGA : TRADISI UNIK PERLOMBAAN KERBAU

Perang Api diawali dengan sekitar 50 orang laki-laki, baik tua maupun muda dari para pemangku, prajuru desa dan beberapa pengikut lainnya, pakaian yang digunakan berupa kain putih serta kepala yang terikat oleh daun enau lalu berangkat dengan berjalan kaki menuju ke Pantai Jasri yang berlokasi sekitar 500 meter di sebelah desa untuk melarung caru. Mereka lalu kembali ke desa pada saat malam hari ketika gelap gulita menyelimuti bumi. Tak ada satupun cahaya penerang yang terlihat pada saat itu, baik di jalan maupun di rumah. Pada saat memasuki perempatan jalan, tepatnya di Patung Salak, mereka yaitu pembawa caru atau sering disebut dengan Wong Bedolot itu dihadang serta dilempari dengan obor oleh puluhan warga desa. Lemparan obor ini dilakukan sebagai bentuk penetralisiran, karena pada saat kembalinya dari kegiatan melarung dipercaya bahwa masih diikuti oleh beberapa roh jahat yang dapat mengganggu lingkungan, dan jika tidak atau belum dinetralisir para Wong Bedolot tidak boleh memasuki wilayah desa.



Pada saat itu, suasana yang tergambar pun sangat kelam dan tegang, apalagi disertai dengan tanpa adanya penerangan, jadi merinding dehh. Pelemparan obor dilakukan di tiga lokasi sepanjang jalan dari pantai menuju ke Puri Bale Agung. Pada saat dilempari obor, para Wong Bedolot tidak boleh melawan, hanya diperbolehkan untuk menangkis menggunakan obor yang mereka bawa. Jika obor yang digunakan untuk melempar itu telah habis, Wong Bedolot pun sudah terlepas dan bebas dari cengkraman lemparan obor dari warga, lalu bergegas dan berlari menuju ke Pura Bale Agung. Setelah para pembawa caru serta pengiringnya sampai di Pura Bale Agung, sekitar jam 19.00 barulah digelar yaitu "Perang Api" massal tersebut yang dilakukan di sepanjang jalan raya yang bertepatan di depan Balai Masyarakat Jasri. Medan Perang hanyalah boleh digunakan oleh dua kelompok yang saling berhadapan yaitu kearah utara-selatan yang dipisahkan oleh batas wilayah berupa bentangan daun enau yang diikat di dua buah penjor yang saling berhadapan pula di sebelah timur dan barat jalan raya.

Api yang digunakan untuk perang tersebut berupa obor yang berupa seikat daun kelapa yang telah kering dan berukuran sekitaran 80 cm. Di dalam ikatan daun kelapa tersebut terdapat sebatang kayu yang berukuran seperampat dari panjang obor yang digunakan, dimaksudkan agar lemparan jauh lebih cepat dan keras. Para pelaku adalah laki-laki baik tua maupun muda yang tidak mengenakan baju, yaitu hanya mengenakan kain atau celana.  Perang dimulai dengan tanda berupa peluit yang dibunyikan oleh petugas Terteran, mereka menyerang dan saling lempar dengan bergantian. Api dari obor itu pun terbang kesana kemari dari atas maupun bawah, bahkan sampai mengenai tubuh teman sendiri. Semburan api dari obor tersebut pun sangat indah bagaikan kunang-kunang di kegelapan malam.

Peperangan bisa mencapai sekitar satu jam, dan berlangsung hingga babak ke tiga. Para peserta berhenti melakukan kegiatan lempar melempar ketika peluit dibunyikan saat berakhirnya babak ketiga, dan peperangan berakhir ketika api pada obor tersebut telah padam. Perang tanding Terteran tidak hanya dilakukan pada saat Pangerupukan, tetapi setelah dua harinya yaitu pada saat Ngembak Geni kembali dilaksanakan. Hal itu dilakukan kembali untuk memberikan kesempatan bagi warga yang belum sempat menyaksikan atau mengikuti perang tanding tersebut.


Selain di Desa Jasri, Perang Api juga dilaksanakan di Banjar Saren Kauh, Bebandem, Karangasem. Tetapi, disana sedikit berbeda, yaitu pada obor yang dipakai, yaitu menggunakan sambuk. Pelaksanaan perang ini pada saat Tilem Kedasa, Lampu jalan di wilayah tersebut pun dipadamkan, suasana menjadi memanas ketika sejumlah pemuda saling bertatap muka di depan Pura Sega, tak sedikitpun perasaan mereka gentar saat akan dilakukan peperangan tersebut. Tanpa diawali dengan tanda apapun, tiba-tiba ada seorang pemuda yang melempar serabut kelapa kering yang telah dibakar ke arah lawannya, sehingga ada salah seorang peserta mengenai punggungnya. Lalu, lemparan tersebut dibalas dengan lemparan yang sama pula, aksi itupun berlanjut dan menyita perhatian warga sekitar. Sesekali teriakan penonton terdengar mengejek pada saat lemparan tidak mengenai sasaran. Meski begitu, tak ada satupun para pemuda yang melakukan perkelahian.




Para peserta yang terlibat peperangan itu sama sekali tidak melengkapi dirinya dengan pelindung. Meskipun sakit atau pegal-pegal yang dirasa, Perang Api ini pun sama sekali tidak menyisakan dendam di hari para peserta. Para Pemuda melakukan pergelaran Perang Api hanya sebagai ritual semata, dan memang disengaja untuk tidak menyalakan lampu saat peperangan berlangsung agar tidak saling mengenali satu sama lain. Perang api ini sudah menjadi tradisi masyarakat dusun adat setempat, para pendahulu dusun adat itu tidak tahu tahun berapa ritual itu dimulai pertama kali. Namun, mereka mempercayai bahwa ritual tersebut mampu mendatangkan kedamaian bagi masyarakat setempat.

Seorang pemangku di Pura Batur yang berlokasi di Desa Adat Saren mengungkapkan, ritual Terteran dilakukan pada saat bulan mati, yaitu pada rangkaian "Usabha Dalem" di Pura Sega. Rangkaian tersebut diperingati setiap tahun, tetapi Terteran dilakukan tiga hari berturut-turut hanya satu kali dalam dua kali perayaan Usabha Dalem. Maka dari itu, tidak heran jika masyarakat selalu menantikan perang tersebut. Sekianlah informasi mengenai TRADISI PERANG API. Terimakasih telah berkunjung, semoga dapat menambah wawasan anda dan berguna kedepannya. Mohon maaf bila ada kesalahan, jika ada saran dan kritik bisa disampaikan melalui kolom komentar dibawah ini. Jangan Lupa SHARE ya, biar kita yang tinggal di wilayah Bali tidak lupa akan Tradisi di wilayah masing-masing.

Sumber : _pandejuliana_

Monday, April 3, 2017

Tradisi unik Perlombaan Kerbau

Hai, apa kabar? semoga dalam keadaan baik, absen dulu, kalian dari daerah mana aja nih? ditempat kalian pasti mempunyai tradisi masing-masing bukan? nah, di daerah mimin nih ada perlombaan kerbau. Kalian pernah menonton perlombaan kerbau tidak? Nah, di Bali ada nih suatu perlombaan dengan menunggangi kerbau, tau kah anda daerah mana yang saya maksud? yuk simak selengkapnya dibawah ini.



Tradisi Makepung telah  dikenal dari dahulu, yaitu pada saat masyarakat melakukan pemindahan hasil panen dari sawah menuju ke rumah. Saat berangkat ke sawah, pedati yang belum berisi muatan hasil panen akan terasa lebih ringan, pedati ini ditarik oleh sepasang kerbau. Pada saat itulah pengendara dari pedati tersebut memacu kerbaunya, lalu setelah saat itulah datang inspirasi untuk mengadakan Tradisi Makepung. Berasal dari namanya yaitu Makepung (mengejar) tradisi ini adalah kegiatan perlombaan yang saling kejar-mengejar dengan menggunakan sepasang kerbau yang ditunggangi oleh satu orang, baik pria maupun wanita. Pada perlombaan ini, tidaklah menggunakan pecut, tetapi memakai tongkat rotan bergerigi terbuat dari paku-paku tajam yang dilekatkan pada tongkat tersebut. Pedati yang digunakan tidaklah seperti yang digunakan pada saat mengangkut hasil panen, tetapi hanyalah pedati kecil yang hanya muat untuk seorang pengendara (joki dari pedati tersebut).

Dalam Tradisi ini terdapat beberapa peraturan, peraturan yang disediakan sangatlah unik, karena pemenang lomba bukanlah ditentukan dari siapa yang mencapai garis finish terlebih dahulu, tetapi ditentukan oleh jarak yang dibuat antar peserta lomba dengan lawannya. Pemenang Makepung ditentukan jika yang berada pada posisi pertama berhasil menjaga jarak lawannya di belakang sejauh 10 meter. Jika peserta dibelakangnya dapat mengecilkan jarak atau kurang dari 10 meter, maka peserta dibelakang yang berhasil mengurangi jarak kurang dari 10 meter tersebutlah yang menjadi pemenangnya. Mengenai arena, Arena Makepung ini berbentuk huruf U yang memiliki panjang mencapai 2 kilometer.
Tradisi Makepung di Bali sering dijadikan agenda dengan skala yang cukup besar dengan melibatkan banyak peserta dan pastinya disertai juga dengan banyak kerbau yang digunakan. Seperti halnya Gubernur Cup peserta yang diikutsertakan dapat mencapai 300-350 pasang kerbau, peserta yang terlibat pun dari banyak kalangan, mulai dari petani, pengusaha, bahkan pejabat negara pun dapat mengikuti tradisi yang unik ini. Selain kejar-kejaran antar kerbau yang ditampilkan, beberapa rombongan musik pun diundang untuk memeriahkan acara, seperti rombongan pemusik gamelan yang khas dari Bali.

Biasanya, untuk perlombaan Makepung tingkat Kabupaten di Jembrana ini dimulai pada bulan Agustus, sedangkan untuk perlombaan Makepung tingkat Provinsi adalah bulan Oktober. Saat ini, Tradisi Makepung di Jembrana sudah sangat terkenal, baik di Bali maupun di luar Bali, maka dari itu kita harus pandai dalam menjaga, dan melestarikannya. Begitupun tradisi di daerah kalian masing-masing, agar dijaga dengan baik agar tidak terlupakan seiring perkembangan jaman. Sekian artikel mengenai TRADISI MAKEPUNG, semoga bermanfaat dan berguna kedepannya. Terimakasih telah berkunjung, mohon maaf bila ada kesalahan, baik disengaja maupun tidak sengaja.



Sunday, April 2, 2017

Tradisi Perang Pandan di Karangasem

Hai, apa kabar? semoga sehat selalu, info dong kalian tinggal di daerah mana aja nih? nah, di setiap daerah kalian pasti punya tradisi masing-masing kan? begitupun di Bali, pastilah mempunyai tradisinya masing-masing, seperti Omed-omedan, Tau kah anda, dari mana awalnya Tradisi Mageret Pandan itu? Nah, yuk simak selengkapnya dibawah ini.

BACA JUGA TRADISI MBED-MBEDAN DI DESA ADAT SEMATE, MENGWI, BADUNG

Desa Tenganan, memiliki luas kurang lebih sekitar 900 hektar, terdapat banyak keunikan yang melekat didalamnya. Salah satunya yaitu Tradisi Mageret Pandan atau Perang Pandan.Mageret Pandan dapat juga disebut dengan istilah Makere-kere, Tradisi Mageret Pandan ini dapat dikelompokkan kedalam tari sakral yang hanya bisa di pentaskan pada waktu yang sudah ditentukan. Mageret Pandan dilakukan sebagai bentuk persembahan khususnya untuk Dewa Indra, karenna upacara ini menganut ajaran Agama Hindu aliran Indra, yaitu dikenal sebagai Dewa Kemakmuran dan Dewa Perang.



Dalam Peperangan ini, alat utama yang digunakan yaitu tameng / perisai, dan daun pandan. Tameng / perisai ini terbuat dari rotan, sedangkan Pandan adalah tumbuhan yang memiliki duri-duri yang sangat tajam pada daunnya. Sebelum melakukan Tradisi Perang Pandan ini, kita haruslah dimulai dengan mengelilingi desa untuk memohon keselamatan, lalu ritual minum TUAK atau sering disebut dengan LAU. Bambu adalah sebagai tempat yang sering digunakan untuk dijadikan sebagai tempat tuak, lalu dituangkan ke dalam daun pisang yang digunakan sebagai gelasnya. Peserta akan menunangkan tuak tersebut ke daun pisang, secara bergantian sehingga akan terjadi pertukaran tuak antara satu dengan peserta lainnya.

Dalam pakaian, peserta dapat menggunakan kamen, selendang atau saput, udeng, dan bertelanjang dada tanpa menggunakan baju. Masing-masing peserta  kan membawa seikat pandan berduri di tangan kanannya, dan lengkap dengan perisai berupa anyaman yang dibentuk dari rotan ditangan kiri. Perang ini dimulai setelah Pemangku memberikan aba-aba sebagai tanda dimulainya perang tersebut, lalu peserta akan menari-nari dan memukulkan pandan berduri kepada lawannya, lalu kedua belah pihak saling serang menyerang. Mereka akan memukul punggung lawan setelah merangkulnya terlebih dahulu. Kemudian setelah merangkulnya barulah mereka saling pukul memukul punggung lawan menggunakan daun pandan yang penuh dengan duri tajam tersebut.

Setelah Perang tersebut selesai, Luka yang disebabkan oleh pandan tersebut akan diobati oleh obat khusus yang telah disediakan oleh para daha atau pemuda dan pemudi Desa Tenganan, yaitu sebulan sebelum Tradisi Perang Pandan dilakukan. Jika duri pada pandan yang digunakan tersebut tertanam, maka hanya akan diobati dengan cuka, kunyit, dan isen untuk mempercepat pengeringan. Pada saat diobati memanglah perih, tetapi hanya bertahan beberapa menit saja. Demikianlah artikel mengenai Tradisi Mageret Pandan di Desa Tenganan, Karangasem. Jika kalian ingin melihat Perang tersebut, anda bisa datang dan menyaksikannya langsung di Desa Tenganan, Karangasem. Terimakasih telah berkunjung, dan mohon maaf bila ada kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak.

Saturday, April 1, 2017

TRADISI NGUREK Di BALI


Hai, apa kabar semeton? semoga sehat selalu, mungkin anda sudah tau di Bali telah memiliki banyak tradisi yang dilakukan, mulai dari yang umum maupun tidak umum sekalipun. Nah, kali ini saya akan membahas TRADISI NGUREK Di BALI, mungkin semeton ada yang tau atau pernah liat? atau bahkan mungkin ada yang pernah melakukannya? pengen tau kejelasannya? yuk disimak selengkapnya di bawah ini.

Berasal dari kata "UREK" yang berarti tusuk, lalu mendapat imbuhan di awalan menjadi "NGUREK" yang dapat diartikan sebagai Menusuk tubuh diri sendiri dengan keris, atau tombak dalam kondisi kerasukan (kerauhan). Melakukan Ngurek ini, tidak sedikit pun dapat melukai tubuh, karena Ngurek dilakukan pada saat kondisi kerasukan dan diluar kesadaran.



Pada saat kerasukan, roh lain lah yang masuk ke tubuh dan akan memberi kekuatan, sehingga menjadi kebal. Inilah keunikan dari Ngurek tersebut, dan sekaligus menjadi misteri yang sampe sekarang belum bisa dijelaskan. Untuk mencapai klimaks pada saat kerasukan, haruslah melakukan beberapa tahap prosesi ritual. Secara umum, ritual tersebut dapat dibagi menjadi tiga, yaitu;

1. Nusdus : yaitu merangsang para pelaku Ngurek dengan menggunakan asap yang memiliki aroma wangi dan menyengat agar cepat dirasuki.

2. Masolah adalah tahap menari dengan diiringi lagu-lagu dan suara kecak atau dapat juga diiringi dengan suara gamelan.

3. Ngaluwur : memili arti mengembalikan pelaku Ngurek ke sedia kala dengan cara menyirami butir-butir tirta ke kepala pelaku Ngurek tersebut.


Seperti yang dilakukan didalam pementasan Calonarang, yaitu Ngurek biasanya dilakukan diluar panggung atau diluar Pura utama.Sebelum kegiatan Ngurek ini dilakukan, biasanya Rangda dan Barong serta para Patih yang terdapat dalam pementasan Calonarang itu kerasukan dan keluar dari panggung atau keluar pada Pura utama lalu mengelilingi areal Pura sebanyak 3 kali. Saat melakukan hal tersebutlah para pelaku Ngurek mengalami titik kulminasi spiritual tertinggi.

Dalam keyakinan masyarakat Hindu di Bali disebutkan bahwa: "Apapun yang dilakukan dengan pasrah, berserah diri, dan ikhlas kepada Sang Pencipta yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa, maka akan mendapat anugerah dan Karunia yang tak terbatas." Sekian artikel mengenai TRADISI NGUREK di BALI, semoga dapat menambah wawasan anda dan sekaligus berguna untuk kedepannya. Terimakasih atas kunjungan anda.

Wednesday, March 15, 2017

Tradisi Melayangan di Bali

Hai, apa kabar? semoga dalam keadaan baik, mengenai layang-layang yang merupakan tradisi di daerah Bali, mulai dari daya imajinasi untuk melahirkan ide hingga timbulnya layang-layang yang sangat kreatif dari masyarakatnya adalah suatu penghargaan yang sangat besar untuk Bali.
Bermain layang-layang atau sering disebut dengan melayangan bermula dari sebuah permainan masyarakat yang sangat sederhana, Tradisi Melayangan ini telah terjadi secara turun temurun yang diwariskan oleh masyarakat di  Bali.

Tuesday, March 7, 2017

Keunikan Tradisi Omed-Omedan

Taukah anda kegiatan ciuman massal di Bali? anda penasaran kan? yuk simak selengkapnya dibawah ini.

Tradisi ini adalah acara ciuman massal yang dilakukan setiap pergantian tahun Caka atau lebih tepat sehari setelah hari raya Nyepi yang datangnya setiap satu tahun sekali. Omed-omedan dapat disebut juga dengan Med-medan, acara ini rutin digelar setiap tahun, tepatnya sehari setelah Hari Raya Nyepi atau sering disebut dengan Ngembak Geni. Menurut sejarah, acara ini telah diwariskan sejak tahun 1900-an dan uniknya acara ini hanya dilakukan oleh Banjar Kaja, Sesetan. 

Berawal dari sebuah Kerajaan kecil yang bernama Puri Oka dengan Raja nya yang sedang mengalami sakit keras. Walaupun sudah mencoba berobat kemana-mana, sang raja tak kunjung sembuh. Lalu, pada Hari Raya Nyepi, masyarakat Puri Oka mengadakan permainan Omed-omedan, karena saking antusiasnya, suasana pun menjadi gaduh karena para pemuda dan pemudi saling rangkul-merangkul satu sama lain. Raja yang pada saat itu sedang sakit pun mendatangi acara tersebut dan marah besar. Sang Raja keluar dan melihat warganya sedang rangkul-merangkul, tetapi, karena melihat adegan panas tersebut tiba-tiba raja tidak lagi merasakan sakitnya, dan setelah itu raja menjadi kembali sehat seperti sedia kala. 

Raja lalu memerintahkan agar Omed-omedan harus dilakukan pada saat Hari Raya Nyepi. Acara ini telah menjadi tradisi di daerah tersebut. Konon, dahulu sekitar tahun 1970an acara ini pernah ditiadakan, lalu tiba-tiba terjadi perkelahian antara dua ekor babi di pelantaran Pura. Babi tersebut terluka dan berdarah-darah, lalu menghilang entah kemana perginya. Terjadinya peristiwa tersebut dianggap sebagai pertanda yang buruk bagi semua warga banjar. Lalu, karena terjadinya peristiwa tersebut acara Omed-omedan pun kembali dilaksanakan hingga sekarang.

Tradisi yang unik ini dilakukan diantara laki-laki dan perempuan yang tinggal satu wilayah, tepatnya di Banjar Kaja, Sesetan, Denpasar. Kurang lebih 50 orang yang ikut berpartisipasi dalam acara ini. Sebelum melakukan acara ini, peserta harus memulai dengan melakukan persembahyangan di Balai Banjar agar berjalan lancar, serta mendapat keselamatan saat melakukan prosesi acara tersebut. Setelah melakukan persembahyangan , peserta dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok laki-laki dan perempuan.

Tradisi ini pun rutin diadakan setiap satu tahun sekali, sebelumnya, omed-omedan yang dilakukan pada hari Nyepi lalu pada tahun 1978 telah diputuskan untuk mengganti waktu pelaksanaan yaitu sehari setelah Nyepi atau sering disebut dengan Ngembak Geni. Sekian artikel mengenai KEUNIKAN TRADISI OMED-OMEDAN, semoga berguna untuk kedepannya sekaligus dapat menambah wawasan anda. Terimakasih telah berkunjung.

Jangan Lupa komentar dan like fanspage KESENIAN DAN BUDAYA BALI nya yaa.

Monday, March 6, 2017

Upacara yang wajib dilaksanakan di Bali



Pernahkah anda berkunjung ke Bali? taukah anda, di Bali terdapat banyak tempat wisata, entah wisata alam, atau wisata kuliner, contohnya seperti wisata air terjun di bali, tempat wisata di Bali, serta wisata kuliner di Bali. Selain keindahan alam dan enaknya masakan kuliner khas di Bali, taukah anda apa saja kebudayaan yang menjadi ciri khas budaya Bali? yuk simak dibawah ini.



Pakaian Adat Bali

Bali memiliki berbagai macam pakaian adat, untuk perempuan yang berumur belasan tahun yang masih remaja, umumnya menggunakan Sanggul Gonjer, sedangkan untuk wanita dewasa menggunakan Sanggul Tagel, serta menggunakan kemben songket, dengan menggunakan sabuk prada untuk mengikat pinggul dan dada, dilengkapi dengan kain wastra, selendang songket dari bahu ke pinggang, kain tapih, serta beberapa perhiasan.
Pria menggunakan Udeng (pada kepala), menggunakan selendang, kain (kampuh), kain wastra, keris, kemeja, serta beberapa ornament yang digunakan untuk membuat penampilan pria lebih menarik.

Rumah Adat Bali

Memiliki rumah di Bali, atau akan membangun rumah adat harus sesuai dengan aturan yang terdapat pada Kitab Suci Weda yang mengatur tenntang tata letak sebuah bangunan. Rumah adat Bali harus dibangun dengan memenuhi aspek pawongan (penghuni rumah), palemahan (lingkungan), serta parahyangan. Pada umumnya, rumah adat Bali dipenuhi dengan pernak-pernik hiasan yang berupa ukiran yang berwarna-warni, serta patung-patung sebagai simbol ritual. Bangunan rumah Adat Bali dibuat terpisah menjadi beberapa bangunan kecil yang disatukan oleh pagar yang mengelilinginya. Tetapi, seiring perkembangan jaman seperti sekarang ini banyak terdapat perubahan pada bangunan, dimana bangunannya tidak jarang yang tidak dipisahkan lagi.


Upacara Adat di Bali

Mulai dari didalam kandungan sampai meninggal. Karena dari lahir masyarakat Bali khususnya Hindu sudah mempunyai hutang yang disebut Tri Rna. Apa sajakah upacaranya? yuk simak selengkapnya dibawah ini.


1. Magedong-gedongan
Dilaksanakab pada saat bayi masih didalam kandungan yang telah berumur 7 bulan. Upacara ini tidak harus tepat pada 7 Bulan (210 hari) tetappi disesuakin dengan hari baik. Upacara ini dapat dilakukan dirumah, dipekarangan, serta dipimpin oleh Pandita, atau Pinandita.

2. Upacara Kelahiran 
 
Upacara ini dinyatakan sebagai ungkapan kebahagiaan atas kehadiran bayi tersebut ke dunia, upacara ini dilakukan pada waktu bayi baru lahir.
Upacara ini dapat dilakukan di dalam atau di depan pintu rumah yang dipimpin oleh salah satu keluarganya yang tertua, demikian juga untuk mendem ari-arinya. Jika tidak ada keluarga tertua, dapat dilakukan oleh ayah dari bayi tersebut.

3. Upacara Kepus Puser
 
Upacara Kepus puser adalah upacara yang dilakukan pada saat puser bayi lepas. Pada umumnya saat bayi berumur tiga hari, tepat pada hari tersebut dilaksanakan didalam rumah terutama disekitar tempat tidur bayi tersebut. Upacara ini dapat dilakukan oleh keluarga yang tertua atau orang tua si bayi.

4. Bayi berumur 12 hari

Setelah bayi berumur 12 hari, harus dibuatkan upacara yang sering disebut dengan Upacara Ngelepas Hawon. Setelah upacara ini barulah sang anak diberi nama, dan demikian sang catur sanak yaitu keempat saudara kita setelah melukat yang berganti nama. Upacara ini dilakukan pada bayi tepat pada umur 12 hari, dapat dilakukan di dalam rumah yaitu di sumur (pemandian), sanggah kemulan, atau di dapur. Upacara ini dapat dilakukan oleh keluarga yang paling tua.

5. Upacara kambuhan (umur 42 hari)

Setelah bayi berusia 42 hari, barulah upacara ini dilakukan. bertujuan untuk membersihkan lahir maupun batin si bayi serta ibunya, selain itu, berguna juga untuk membebaskan si bayi dari pengaruh negative. Dapat dilakukan di dalam lingkungan rumah, dipimpin oleh seorang Pandita, atau Pinandita.

6. Upacara nelu bulanin (Niskramana Samskara)

Upacara ini dilakukan pada saat bayi berusia 105 hari, atau tiga bulan dalam hitungan pawukon. Tempat rangkaian upacara bayi yang berumur tiga bulan ini dilaksanakan di lingkungan rumah. Upacara ini dipimpin oleh Pinandita atau Pandita. 

7. Upacara satu oton
 
Upacara ini dilakukan setelah bayi berumur 210 hari tepatnya pada enam bulan pawukon. Upacara ini bertujuan untuk menebus kesalahan yang terdahulu, sehingga dalam kehidupan yang sekarang dapat mencapai kehidupan yang lebih sempurna.

8. Upacara tumbuh gigi
 
Upacara yang dilakukan pada saat anak tumbuh gigi yang pertama. Upacara yang bertujuan untuk memohon agar gigi tumbuh dengan baik. Sarananya berupa Petinjo kukus dan telor atau petino kukus dan ayam atau itik yang dilengkapi degan tataban. Dilakukan pada saat bayi tumbuh gigi yang pertama, upacara ini dilakukan di lingkungan rumah pada waktu matahari terbit. 

9. Upacara tanggalnya gigi pertama
Dengan tujuan untuk mempersiapkan si anak untuk mempelajari ilmu pengetahuan, upacar ini pun dapat dibuat dengan sarana: banten byakala dengan sesayut tatebasan, serta dilengkapi dengan Canang sari. Upacara ini dilaukan pada waktu si anak untuk pertama kalinya mengalami ketus gigi. Tempat rangkaian upacara ini  dilaksanakan di rumah, yang dipimpin oleh keluarga tertua.

10. Upacara menek deha
 
Upacara ini dilaksanakan saat anak menginjak dewasa. Upacara ini dilakukan untuk memohon kehadapan Hyang Samara Ratih agar diberikan jalan yang terbaik dan tidak menyesatkan untuk si anak.




11.Upacara potong gigi (mepandes / metatah)

Upacara Mepandes (potong gigi) bertujuan untuk mengurangi pengaruh Sad Ripu pada diri si anak. Upacara ini dilaksanakan setelah anak menginjak dewasa, namun sebaiknya sebelum anak itu menikah. Namun, daat juga dilaksanakan setelah berumah tangga, upacara potong gigi dilaksanakan di rumah dan di pemerajan. Pemimipin Upacara potong gigi ini dilaksanakan oleh Pandita/Pinandita dan dibantu oleh seorang sangging.

12. Upacara Perkawinan (Pawiwahan / Wiwaha)
Hakekatnya adalah upacara persaksian ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa.Waktu Biasanya dipilih hari yang baik, sesuai dengan persyaratannya. Tempat Dapat dilakukan di rumah mempelai laki-laki atau wanita sesuai dengan hukum adat istiadat setempat atau dapat disebut desa, kala, patra. Pelaksana Dipimpin oleh seorang Pendeta / Pinandita / Pemangku.

13. Upacara Ngaben



Upacara ini dilakukan pada saat seseorang telah meninggal dunia. Dikenal dengan sebutan "NGABEN", upacara ini adalah upacara pembakaran yang dilakukan kepada orang yang meninggal tersebut, yang bertujuan untuk mengembalikan roh leluhur ke tempat asalnya. Karena manusia memiliki bayu, sabda, serta idep, dan setelah meninggal elemen-elemen tersebut dikembalikan ke Dewa Trimurti yaitu Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa, yang merupakan Dewa yang dipercayai oleh masyarakat Bali terutama umat Hindu.